Wednesday, August 27, 2008

Pei Shan ke Jakarta

Jakarta Dec 2006

since today is such a slack day, i decided to post photos of my recent trip to Jakarta.

however, there is something wrong with the posting images feature so the photos aren't really in the order that i wanted to post them in. But well...

Enjoy!



We went to Taman Safari! You get to drive your cars in and feed some of the more docile animals. Actually i think you don't get to feed the animals but as you drive in there are so many stalls selling carrots for animals so we bought some, not knowing it was not allowed. But virtually every car that drove in fed the animals.

My uncle was very scared the animals would pop their heads in. I was only afraid the llamas would spit at me when i try to feed them. ha...



I don't think everyone wants to see photos of animals that we can see at the zoo, so hahha. just some to let you see where i've been.


Elephant poop! I got the privilege of watching the elephants pee and shit. It's a sight man! When they pee, it's like turning on this huge tap. And they have such smooth bowels. Very well-formed poop balls that pass out easily. Cute. hahha


At our second villa, we went to this warm water swimming pool. Quite cool cos i haven been to any swimming pool where the water is warmed for you. The place was quite cold so i guess they need to warm up the water if not no one will go. My uncle says it used to be cooler a few years ago. We are feeling the direct effects of global warming!




My super duper cute and lovely cousin, Yonathan. He's a boy by the way. Just that his hair is very long and some pple think he's a girl. He's so cute and energetic and sweet! =) He loves to swim too...




My first time on a horse! It truly felt like an i-gallop experience. I think my horse is a bit siao siao, it started at the end of the pack, very much after the other two horses but ended up at the front by the end of the short walk. cos it was really galloping! rather than walking. I was so scared!




All the king's horses and all the king's men.



Me and yonathan on a horse. He din get to ride, only took a photo. haha. he was screaming in the car when my uncle drove him in the car alongside our horses. But he looks so stoned here. Maybe he was scared. hahahha. anyway, he looks super cute in this striped overalls.


A Japanese-styled villa at the estate near my uncle's villa. Very nice! in comparison to my uncle's right below. hahhaha..




Looks like a normal terrace house. Pretty small too and the attic's fake. But i think u could probably reconstruct a room. I would if I had a house like that. And the room up at the attic would be mine! where all the skeletons live. hahahhahah.




There was a mini bitter gourd growing right outside the house. So cute.


The first villa we went to. It's my uncle's in Sentul. Actually it's just a very small terrace house of sorts which pple there buy as holiday homes. It's a very nice and quiet estate, a very nice place to live in and not just for the hols. Very well-maintained too! It's quite rare to find clean and manicured streets in indonesia so this was a fresh change!



And when you walk around the estate, you get to see mountain views and paddy fields. It's really so refreshing. Imagine if u had a work from home job and you get to enjoy fresh air everyday and insulate yourself from the stress outside. it's sweet!



My cousin, Yosia. Too bad he closed his eyes.

Tuesday, August 26, 2008

Jani dengan rambut baru


Jani tampil beda dengan meluruskan rambutnya atau di smooth rebounding. 'Supaya jalannya lurus, rambut juga harus lurus', gumam jani waktu ditanya.

Monday, August 25, 2008

Jani makan nasi liwet


Jani lagi asyik makan nasi liwet dan lupa nawarin suaminya.

Sunday, August 24, 2008

Monday, August 18, 2008

MAY DAY .. MAY DAY

Pernah mengalami situasi antara hidup dan mati ? Apa yang dipikirkan di saat saat seperti itu ? Siapkah kita ?

Awal November 2005, saya terbang dengan pesawat Awair dari Batam ke Jakarta. Saya bukanlah orang yang fobia terbang, walaupun bukan juga orang yang menyenangi terbang karena pengalaman beberapa kali penerbangan yang kurang menyenangkan. Saya selalu harus menyakinkan diri sendiri bahwa setiap jam ada ratusan pesawat yang mendarat dengan selamat di seluruh penjuru dunia. Data juga menunjukkan bahwa pengangkutan udara termasuk yang lebih aman dibandingkan dengan pengangkutan lainya.

Sore itu pesawat tidak terlalu penuh, padahal dua hari lagi menjelang hari raya Idul Fitri Saya duduk di bangku bagian belakang, yang menurut “survey” lebih aman. Lalu sayapun berdoa, memohon perlindungan dari Tuhan untuk perjalanan ini. Sesaat pramugari yang cantik mulai memperagakan teknik teknik penyelamatan jika pesawat dalam keadaaan darurat. Adegan yang hampir tidak pernah diperhatikan oleh penumpang dan terkesan memperlambat keberangkatan pesawat.

Tidak lama pesawat mulai meluncur kencang untuk take off. Beberapa artikel yang saya baca menunjukkan bahwa saat take off dan landing adalah bagian yang kritis dalam sebuah penerbangan. Pada babak inilah, iman yang besar sangat diperlukan untuk mempercayai bahwa pesawat yang berbobot ribuan ton mampu melepaskan injakan dari bumi dan melayang ke angkasa dan kembali mendarat tanpa terhempas.

Saya selalu berharap lampu “fasting your seat belt” mati, yang berarti bahwa pesawat sudah melewati babak take off dan sudah stabil melayang di angkasa. Saya juga berharap lampu tersebut tidak pernah akan menyala lagi sampai saat landing nanti, sebab setiap lampu tersebut menyala akan berarti cuaca yang kurang baik dalam skala yang kita tidak pernah tahu. Namun sering kali harapan dan kenyataan amat berbeda.

Saat itu saya sedang melamun menyaksikan kegelapan di luar jendela pesawat dan tiba tiba terdengar bunyi “ding dong” dan lampu fasting your seat belt menyala. Terdengar suara pramugari mengatakan bahwa sabuk pengaman harap dipakai disebabkan cuaca kurang baik.

Pesawat agak goyang oleh turbulance yang di sebabkan awan tebal yang tidak kelihatan. Dan mendadak saya dikagetkan oleh jatuhnya barang dari atas kabin pesawat. Saya memperhatikan, ternyata yang jatuh dari atas adalah oxygen mask di atas kepala kami masing-masing. Saya masih tidak bisa mencerna apa yang saya lihat. Mengapa oxygen mask jatuh ? Apakah pesawat kehilangan tekanan udara ? apakah pesawat dalam bahaya ? Apakah pilot tahu oxygen mask jatuh ?

Saya mengharapkan bahwa mungkin ada sekrup yang kendor di pesawat sehingga mengakibatkan oxygen masknya jatuh yang sama sekali tidak berbahaya. Atau barangkali ini hanya lelucon dari pilot pesawat untuk mengagetkan penumpangnya. Belum selesai saya berandai andai, tiba tiba terdengar suara tidak jelas dari pilot di speaker, lalu pramugari mulai berlarian dari belakang pesawat ke arah cockpit.

Selama kurang lebih 3 menit, kami tidak tahu apa terjadi dan apa yang harus kami lakukan. Para pramugari yang lari ke depan dan ke belakang dengan wajah pucat jelas bukan berita baik. Lalu terdengar suara lagi dari pilot di speaker dan pramugari mulai mengajarkan kami untuk memakai oxygen mask. Satu persatu mulai menarik oxygen mask dari atas dan memakainya. Suasana terasa sangat mencekam. Pesawat kemudian menukik tajam untuk mencari ketinggian yang lebih baik. Gendang telinga terasa sakit sekali mendekati pecah. Beberapa orang terlihat membungkukkan badan menahan sakit di telinga – termasuk saya. Anak anak mulai menangis dan menjerit.

Langit di luar yang gelap gulita membuat saya makin kuatir. Apakah pilot bisa melihat dengan baik dalam kegelapan malam ? Apakah ada lampo sorot di hidung pesawat ? Apakah kita berada dalam ketinggian yang aman ? Apakah ada gedung tinggi yang di depan yang tidak terlihat oleh pilot ? Apakah pilot masih di cockpit ? Semua pertanyaaan aneh aneh muncul bersamaan dalam benak saya. Lalu saya mencengkram pegangan kursi erat erat mengantisipasi setiap benturan yang bisa terjadi setiap saat.

Saat itu, saya tidak ingat lagi semua proyek yang sedang saya kerjakan. Saya tidak ingat lagi berapa uang saya di bank, atau berapa piutang orang kepada saya yang belum dibayar. Saya sama sekali tidak perduli dengan semua harta duniawi yang saya miliki, yang tadinya saya cari siang dan malam. Yang ada pada pikiran saya hanya keluarga saya. Istri dan ketiga anak saya yang masih kecil. Lalu secara cepat terlintas kehidupan saya dalam benak saya.

Kemudian saya berpikir, kalau hidup saya harus berakhir sekarang, apakah hidup saya sudah layak bagiNya. Apakah yang saya lakukan untukNya sudah cukup ? Apakah waktu yang saya gunakan untuk pekerjaanNya memadai ? Lalu mulai timbul keraguan dalam hati saya. Saya merasa belum berbuat yang terbaik untukNya. Apakah Tuhan akan tetap menerima saya ?

Lamunan saya buyar ketika suara pilot yang mengumumkan, bahwa ada kerusakan pesawat sehingga pesawat akan diterbangkan kembali ke Batam. 20 menit kemudian adalah waktu terpanjang dalam hidup saya menanti pesawat landing di Batam. Pada saat roda pesawat terbentur dengan semen di landasan, saya seolah dapat mendengar desah nafas lega dari semua penumpang di pesawat.

Asap tebal keluar dari depan cockpit untuk menyamakan tegangan udara di dalam pesawat. Kemudian pintu pesawat terbuka dan kamipun turun dari pesawat. Saya hampir mencium semen di landasan pesawat. Saya merasa mendapat kesempatan kedua dari Tuhan.

Pengalaman yang sangat berharga ini mengajarkan banyak hal kepada saya. Kini saya tahu lebih jelas prioritas dalam kehidupan saya. We not are not going to live forever. Manfaatkan setiap hari dalam kehidupan kita untuk menciptakan makna yang lebih mendalam. Sehingga setiap saat kita selalu dalam hubungan mesra dengan Tuhan, mengutamakan Dia dalam setiap kegiatan kita.

Saya tidak ingin mengalami hal saya sama seperti di atas. Tapi kalau saya harus mengalaminya sekali lagi. Saya ingin merasa lebih tenang dan tahu bahwa saya layak bagiNya.

HARI IBU

Selamat Hari Ibu? Bukankah Hari Ibu di Indonesia jatuh pada tanggal 22 Desember? Dan Hari Ibu versi Amerika pun tidak jatuh pada hari ini. Anda benar. Ini memang bukan Hari Ibu versi dunia, tetapi versi Alkitab. Tuhan memberikan perintah untuk menghormati kedua orang tua kita sebagai salah satu hukum dari 10 hukum yang diberikan di Gunung Sinai. Hukum itu adalah hukum yang pertama dari ke 6 hukum yang menyangkut hubungan dengan sesama manusia. Jadi, hormatilah orang tuamu sebelum Anda mengasihi tetanggamu dan sebelum Anda menghormati bosmu di kantor. Dan, hukum ini berlaku setiap hari; sehingga Hari Ibu dan Hari Ayah harus dirayakan setiap hari.

Hukum ke 5 juga adalah satu-satunya hukum yang disertai dengan janji, "..supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu." Jadi jika anda ingin panjang umur, selain mengikuti NEWSTART adalah mengasihi orang tuamu.

Sifat mengasihi orang tua sudah tertulis dalam sanubari setiap anak. Setiap kali saya bercerita tentang Malin Kundang yang tidak mau mengakui ibunya, anak saya pasti menangis. Ia sangat tidak suka dengan Malin Kundang yang tidak berbakti itu. Dan saya tersenyum puas, mengharapkan anak saya akan tetap mencintai saya kelak jika saya sudah tua dan tidak berdaya.

Seorang pria masuk ke toko bunga. Ia ingin membeli bunga dan mengirimkannya kepada ibunya yang sudah tua dan tinggal di kota lain. Di toko itu ia melihat seorang anak kecil yang juga ingin membeli bunga untuk ibunya. Anak itu sedang menghitung uangnya yang kelihatannya tidak mencukupi. Pria itu jatuh hati. Ia lalu menawarkan untuk membelikan bunga untuk anak itu. Anak itu sangat girang dan berterima kasih. Pria itu menawarkan untuk mengantar anak itu pulang ke rumahnya. Lalu mereka sama-sama berlalu dari tempat itu. Anak tersebut minta diturunkan di sebuah pekuburan. Lalu ia meletakkan bunga yang dibelinya di atas kuburan ibunya. Pria itu termangu. Ia berlalu dari tempat itu dan kembali ke toko bunga. Ia membatalkan kiriman bunganya dan mengantarkan bunganya sendiri ke rumah ibunya.

Cerita yang sangat menyentuh hati kita yang selalu sibuk bahkan untuk mengunjungi orang tua kita. Terlalu sibuk untuk mengasihi mereka semasa hidup mereka. Kita tidak sempat menyatakan cinta kita kepada mereka karena kita selalu dapat menundanya. Masih ada besok dan masih ada Hari Ibu. Tinggal kirim kartu atau bunga.

Dua minggu yang lalu, saya kehilangan ibu yang saya kasihi. Beliau meninggal pada usia 78 tahun, menyusul papa saya yang meninggal 7 tahun sebelumnya. Saya bersyukur karena tahun-tahun terakhir hidupnya ia memilih tinggal bersama saya di Jakarta, sebelum akhirnya kembali ke Tanjung Pinang satu tahun yang lalu. Dan satu bulan sebelum meninggal saya sempat mengunjunginya bersama keluarga. Jenazahnya disemayamkan selama satu minggu. Tamu yang datang tidak berhenti. Hampir 50 karangan bunga menghiasi peti mati beliau. Kalau malam hari, karangan bunga itu membujur hampir 50 meter ke depan rumah-rumah tetangga. Saat pemakaman, ratusan orang ikut mengantar. Sebuah pemakaman yang cukup "meriah" untuk ukuran kota Tanjung Pinang.

Apa kata Alkitab mengenai pemakaman? Pada saat salah satu murid meminta izin kepada Yesus untuk mengurus orang tuanya yang meninggal, Ia berkata dalam Matius 8:22: "Biarlah orang mati mengurusi orang mati.” Apakah kata-kata Yesus ini tidak bertentangan dengan hukum ke 5? Jelas tidak. Semeriah apa pun sebuah prosesi kematian, tidak akan menambah bakti kita kepada orang tua kita. Meskipun peti mati dari kayu ukir berlapis emas, yang terbujur di dalamnya tidak akan bisa menikmatinya. Karangan bunga tidak bisa menggantikan bakti kita kepada orang tua kita. Oleh karena itu, kasihilah kedua orang tuamu semasa mereka masih hidup.

Sejenak saya termangu sambil membaca kesepuluh hukum yang tertulis dalam kitab Keluaran. Ada suara berbisik seakan kini hanya 9 hukum yang dapat saya turuti, karena saya tidak mempunyai lagi orang tua untuk melaksanakan hukum ke-5. Ah, tentu saja maksudnya bahwa kita juga harus menghormati orang yang lebih tua dari kita. Dan kalau toh hal itu perlu kita lakukan, mengapa tidak memberi perhatian lebih besar kepada orang tua kita? Saya merenung, seandainya saja saya dapat memberi lebih banyak waktu dan lebih banyak cinta... Namun kata seandainya selalu datang terlambat. Dan bagi anda yang masih mempunyai orang tua, selamat merayakan Hari Ibu...

BANGKOK, AWAL SEPTEMBER 2005

STAND STILL

Tidak ada orang yang senang dengan jalan buntu. Sebab jalan buntu berarti kita tidak dapat meneruskan perjalanan kita. Bahkan kata buntu hampir selalu berkonotasi negatif. Seperti pikiran buntu, gang buntu atau usus buntu.

Saya mencoba cari kata buntu dalam Alkitab bahasa Indonesia dan tidak menemukannya. Bukan berarti tidak ada orang yang mengalami jalan buntu di Alkitab. Yudas yang menjual Yesus misalnya, mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Barangkali Alkitab tidak terdapat kata buntu, karena bagi orang yang berserah kepada Tuhan akan selalu ditemukan jalan keluar. Di dalam Yohanes 14:6 “ Kata Yesus kepadanya: " Akulah jalan dan kebenaran dan hidup”. Yesus mengumpakan DiriNya sebagai jalan. Tentu jalan yang tidak akan berujung dengan kebuntuan tetapi kepada kelepasan dan keselamatan.

Namun kadang-kadang Tuhan mengizinkan kita mengalami kebuntuan dalam kehidupan kita, untuk menolong kita berserah kepadaNya. Sebab pada saat semua jalan buntu, kita tidak dapat mengandalkan logika atau kekuatan manusia lagi. Saat itu kita akan belajar untuk bergantung kepadaNya.


Pada saat istri saya mengandung anak kami yang ketiga, ada satu peristiwa yang mengajarkan kami makna dari penyerahan total kepada Tuhan. Dibulan kehamilan ketiga, istri saya terserang cacar air (varicella).

Dokter mengatakan bahwa pada bulan ketiga janin masih pada pembentukan organ. Cacar yang disebabkan oleh virus itu dapat saja mengakibatkan cacat pada anak tersebut. Dan dari Internet saya mendapati bahwa resiko yang terjadi dapat berupa scars, tangan dan kaki yang tidak sempurna, buta, pendengaran terganggu atau cacat mental.

Beberapa saudara dan teman menganjurkan kami menggugurkan kandungan kami. “Apakah kalian siap merawat anak yang cacat ? itu akan menyusahkan kalian dan menyusahkan anak itu sendiri !” “ Kalian masih muda, masih ada kesempatan punya anak lagi”.


Dalam kebuntuan ini kami hanya bisa berdoa dan bergantung kepadaNya untuk mendapatkan kekuatan. Tidak ada niat sama sekali bagi kami untuk menggugurkan bayi yang Tuhan berikan kepada kami. Dan memutuskan untuk melanjutkan kehamilan ini apapun resikonya.

Kami percaya Tuhan mempunyai rencana untuk kami dan kami siap menerima segalanya. Saya hanya berdoa kepada Tuhan, apapun yang terjadi pada anak kami, berikan kami kemampuan untuk tetap mencintai anak kami dengan limpahnya.

Sejak itu kami berkonsultasi ke banyak dokter dan proffesor. Mereka tidak bisa memberikan jaminan bahwa anak itu akan lahir dalam keadaan sehat. Mereka hanya bisa menganjurkan kami untuk banyak berdoa.

Satu peristiwa lagi terjadi. Pada bulan ke 6, istri saya terkena Campak Jerman (Rubela). Campak itu berlangsung singkat, tapi kami bertambah kuatir akan dampaknya pada janin yang dikandung. Dokter mengatakan Rubela jauh lebih ganas daripada Varicella. Kami makin bingung dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Saya tidak mengerti apa makna dibalik semua peristiwa yang menimpa bayi kami dalam kandungan ini. Namun satu cerita dalam Alkitab sangat menguatkan kami. Pada saat bangsa Israel keluar dari Mesir dan dikejar oleh tentara Mesir. Di hadapan mereka adalah laut. Dan tentara Mesir ada di belakang. Saat genting seperti itu, mereka ingin tahu apa yang Tuhan akan perintahkan kepada mereka melalui Musa. Dan Tuhan memberikan jalan keluar dalam Keluaran 14:13 “Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu….”.

Berdirilah tetap. Yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan Stand still. Satu nasihat yang aneh diberikan kepada orang yang berada dalam jalan buntu. Allah meminta mereka untuk diam dan tidak berbuat apa apa. Karena dalam keadaan ketidak berdayaan kita, Allah akan menunjukkan kasih dan kekuasaanNya. Ayat ke 14 mengatakan “TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja."

Sungguh luar biasa Tuhan kita. Dan sejak itu, kami menyerahkan seluruh persoalan kami kepadaNya. Kami sudah sampai kepada titik tidak dapat berbuat apa apa. Berdiri tetap. Stand still. Dan membiarkan Tuhan berperang untuk kami.

1 Desember 2004, anak kami lahir melalui caesar kerena denyut jantungnya melemah. Namun Tuhan menunjukkan rahmatNya, anak kami lahir dengan selamat. Dan ia menjadi bukti bagaimana Tuhan akan selalu menyertai kita dalam setiap kesulitan dan pergumulan kita.

Jika kita berada di jalan yang buntu, dan tidak ada lagi yang dapat kita perbuat. Itulah saatnya kita untuk berdiam diri dan membiarkan Tuhan melakukan bagianNya dan mengajarkan kita bagaimana bergantung sepenuhnya kepadaNya